Hingga saat ini patient experience di Indonesia masih berada pada tahap wacana liar yang belum terinstitusionalisasi dalam tata kelola manajemen rumah sakit. Fenomena ini terlihat dari dominannya pendekatan normatif yang belum menghasilkan kesinambungan implementatif dalam manajemen operasi rumah sakit.
Rumah sakit bukanlah entitas yang bebas nilai. Sebagai institusi pelayanan publik dengan mandat etik, komunikasi rumah sakit harus mempertahankan standar profesionalitas dan integritas dalam setiap bentuk ekspresinya. Keinginan untuk tampil viral atau populer harus dikritisi secara etis agar tidak menurunkan martabat profesi dan mencederai kepercayaan publik.
Komunikasi promosi kesehatan pada pasien PGK tidak cukup hanya menyampaikan informasi medis, tetapi harus mampu membentuk pemahaman, sikap dan perilaku yang adaptif terhadap kondisi kronis. Konsep ini dikenal sebagai Kidney Failure Communication, suatu pendekatan dalam promosi kesehatan rumah sakit untuk pasien dengan gangguan fungsi ginjal.
Jaringan hospital groups menghadapi tantangan untuk menciptakan brand image yang kuat dan konsisten di seluruh jaringan pelayanan. Tidak hanya penting untuk menjaga kualitas pelayanan, tetapi juga untuk memastikan bahwa setiap rumah sakit dalam grup memiliki visi dan persepsi yang sama di mata pasien. Hal ini dikenal sebagai brand brotherhood
Publik sering kali mengaitkan pemeriksaan payudara dengan ketakutan akan ditemukannya kanker. Pemikiran ini menciptakan resistensi terhadap deteksi dini karena khawatir dengan hasil yang mungkin mengejutkan atau bahkan merusak mental. Di sisi lain, ada juga ketidaktahuan mengenai pentingnya deteksi dini, terutama di kalangan perempuan yang tidak memiliki riwayat keluarga dengan kanker payudara.
Dengan membangun ekosistem layanan kardiovaskular yang terintegrasi, rumah sakit memiliki peluang untuk tidak hanya meningkatkan volume layanan, tetapi juga memperkuat posisi kompetitif di pasar layanan kedokteran spesialistik dan subspesialistik. Ekosistem ini perlu mencakup layanan preventif, diagnostik, intervensi hingga rehabilitasi, yang kesemuanya memiliki positioning yang berbeda-beda
Fast Access Eye Care & Pop-up Clinic, Format Baru Aspek Komersial Layanan Oftalmologi
Layanan oftalmologi tidak lagi sebagai layanan spesialistik yang eksklusif dan identik di rumah sakit mata. Adanya Pergeseran ekspektasi masyarakat urban dan tumbuhnya ekonomi berbasis waktu, model Fast Access Eye Care melalui Pop-up Clinic menawarkan format yang lebih cepat, fleksibel dan sesuai preferensi pasien di daerah urban.
Market development layanan gizi rumah sakit bukan semata-mata hanya sebuah ekspansi layanan, melainkan bagian dari agenda menghubungkan dapur rumah sakit dengan konsumen untuk memperoleh solusi gizi yang mudah, terpercaya dan berbasis bukti.
Indonesia sebagai negara dengan populasi terbesar keempat di dunia dengan epidemiologi penyakit menular serta tidak menular yang beragam memiliki potensi yang besar untuk menjadi pusat hospital based research di kawasan Asia Tenggara. Namun, potensi ini belum tergarap maksimal.
Premium care di rumah sakit tumbuh dari dinamika kelas menengah Indonesia yang bertambah, literasi kesehatan yang meningkat dan perilaku konsumsi bergeser dari sekadar mengejar “sembuh” menjadi menuntut predictability, clarity dan trust dalam keseluruhan proses interaksi di rumah sakit.
Seorang Chief Executive Officer (CEO) rumah sakit dalam hal ini tidak dapat dipandang hanya sebagai pengambil keputusan strategis tunggal, melainkan sebagai figur sentral yang bertugas menjembatani dialektika antara visi makro dengan tindakan mikro.
Rumah sakit sering dianggap sebagai benteng terakhir dalam menjaga kehidupan manusia. Namun, ada celah yang jarang dibicarakan secara transparan dan tabu yaitu adanya knowledge gap pada level kepemimpinan di instalasi layanan yang sering menyebabkan banyak kerancuan dan stagnasi.